Tampilkan postingan dengan label YuAn *Artikel Islam*. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YuAn *Artikel Islam*. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Januari 2013

..Berbagai Bencana Akibat Memandang Wanita..


Assalamu’alaykum warahmatullah…J

Alhamdulillah yaa nitha bisa ngisi blog nitha lagi, setelah 1taun nitha 
gag ngisi blog nitha (kan dari 2012 sampai 2013)..hehe

Kali ini nitha ingin berbagi beberapa bencana akibat memandang wanita atau memandang yang tidak halal bagi kita.
Nah langsung capsus ajja yuks sama-sama kita simak…J

      

Ibnul Qayyim berkata :
Bencana memandang wanita di antaranya:

1.  Berlama-lama dalam memandang adalah perbuatan maksiat dan menyelisihi perintah Allah swt. Padahal tidak ada yang lebih bermanfaat dan lebih menggembirakan bagi hamba baik di dunia maupun di akhirat, selain menjalankan perintah-perintah Rabbnya Tabaraka wa Ta’ala. Dan tidak ada kepedihan yang melebihi kepedihan tatkala meremehkan perintah-perintah-Nya.
2.  Mencerai-beraikan hati dan menjauhkannya dari Allah swt. Tidak ada sesuatupun yang lebih berbahaya bagi seseorang hamba melebihi hal ini. Karena ini akan melahirkan kesenjangan antara hamba dengan Rabbnya. Sementara menundukkan pandangan akan menumbuhkan rasa cinta dalam hati kepada Allah dan menyatukan hati di atas (syari’at)-Nya.
3.  Akan melemahkan hati dan membuatnya sedih. Sedang menundukkan pandangan akan menguatkan hati dan menggembirakannya.
4.  Hati menjadi gelap. Padahal jika hati Anda gelap, Anda akan menemui berbagai bencana dan keburukan di setiaap tempat. Apa yang Anda inginkan dari kebid’ahan, kesesatan, mengikuti hawa nafsu, menjauhi petunjuk, dan berpaling dari berbagai sebab yang mendatangkan kebahagiaan dan lebih disibukkan dengan perkara-perkara yang menngakibatkan kesengsaraan? Padahal sesungguhnya semuanya itu hanya akan menghilangkan cahaya dalam hati sehingga pemiliknya menjadi seperti orang buta yang merayap di tengah kegelapan. Sedang menundukkan pandangan karena Allah swt akan menjadikan hati bercahaya dan bersinar. Cahaya yang menerangi mata, wajah dan seluruh anggota badan. Oleh karena itulah, Allah swt menyebutkan ayat-ayat dalam surat An-Nur (yang berarti cahaya) memuat perintah untuk menundukkan pandangan. Dia berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya;…’”(An-Nur[24]: 30). Kemudian Allah berfirman menyebut tentang hal itu, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besat…”(An-Nur[24] :35). Maksud cahaya-Nya adalah cahaya Allah yang ada di hati hamba-Nya yang mikmin yang melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apabila hati bercahaya niscaya ia akan didatangi utusan-utusab kebaikan dari segala penjuru.
5.  Terlalu berlebihan dalam memandang akan mengeraskan hati dan menutup pintu ilmu atas hamba. Sedang menundukkan pandangan akan membukakan pintu ilmu bagi hamba dan memudahkan berbagai sarana mendapatkan ilmu untuknya. Hal ini terjadi karena adanya cahaya dalam hati yang dengannya menjadi jelaslah hakikat dari segala sesuatu.
6.  Memberi peluang pada setan untuk masuk ke dalam hati karenaa ia bisa masuk melalui pandangan lalu tembus ke dalam hati lebih cepat dari gerakan udara menembus ruangan kosong. Setan kemudian mengukir wajah orang yang dilihat tadi di dalam hatinya, lalu menghiasinya dan menjadikannya patung yang menetap dalam hati. Setan membujuknya dan menyalakan api syahwat dalam hati serta melemparkan kayu bakar kemaksiatan yang (sebenarnya) tidak akan pernah sampai kepadanya tanpa adanya gambar yang dilihat. Sehingga hati harus berdebar menahan bara api yang menyala-nyala di setiap penjuru, sementara dia berada di tengah-tengah api layaknya kambing yang berada di tengah tungku perapian. Oleh karena itu, siksa yang layak diperuntukkan bagi para pengikut hawa nafsu yang melihat gambar-gambar yang diharamkan adalah dibuatkan tungku perapian di alam kubur nanti. Lalu arwah mereka dilemparkan kedalamnya bersatu dengan jasad mereka. Adapun menahan pandangan akan menutup pintu masuk setan ke dalam hati.
7.  Pandangan yang liar akan menjadikan seorang hamba lalai dan mengikuti hawa nafsu. Allah Taa’ala berfirman, “…dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas,”(Al-Kahfi[18]:28). Dengan sendirinya orang yang meliarkan pandangannya berarti akan terjerumus ke dalam tiga perkara ini. Sedang menahan pandangan karena Allah swt akan melapangkan hati dan menyibukkan untuk memikirkan hal-hal baik.

8.  Sesungguhnya pandangan akan melesat di dalam hati layaknya lesatan anak panah. Jika toh tidak membunuh hati niscaya ia akan melukainya. Ia adalah kejahatan yang bersumber dari api yang dilemparkan ke dalam rumput kering. Apabila tidak membakar semuanya, ia akan membakar sebagiannya, sebagaimana kata seorang penyair:
Setiap kejadian itu bermula dari pandangan
Dan nyala api itu bermula dari percikan bara api
Berapa banyak pandangan yang sampai (menghujam) je hati pemiliknya
Layaknya anak panah yang melesat tanpa busur dan tali
Selagi seseorang memiliki mata yang diterima dalam pandangan manusia, berarti ia beraada dalam bahaya
Yang menyenangkan mata pada hakekatnya adalah sesuatu yang merugikan ruhnya
Tidak datang dengan kegembiraan, kembali dengan kerugian.
Orang yang memandang itu, tanpa ia sadari sejatinya melempar hatinya dengan anak panah.
Wahai orang yang melempar dengan anak panah pandangan mata dengan penuh kesungguhan
Engkau telah membunuh dengan apa yang kau lemparkan, maka janganlah kamu merasa sakit
Karena engkau telah mengutus mata yang mencari kesengsaraan yang mengalunginya
Sesungguhnya ia mendatangimu dengan kebinasaan.
9.  Terlalu lama memandang dan meliarkan pandangan akan mendatangkan kerugian, beban dan nyala api; karena seorang hamba memandang sesuatu yang tidak mampu ia tanggung (akibatnya) dan tidak mampu bersabar atasnya, sebagaimana kata seorang penyair:
Ketika kau utus matamu sebagai mata-mata bagi hatimu
Niscaya pada suatu hari pandangan-pandangan itu akan melelahkanmu
Kau lihat sesuatu yang tak semuanya kau mampui
Sedang terhadap sebagiannya kamu pun tak mampu bersabar
10.         Sesungguhnya pandangan akan melukai hati yang akan diikuti dengan luka berikutnya hingga sakitnya tak tertahankan lagi dikarenakan keinginan yang diulang-ulang. Seperti kata penyair:
Selama satu pandangan diikuti dengan pandangan berikutnya
Memandang setiap hal yang cantik dan menyenagkan
Dikira itu adalah obat dari lukamu
Padaha;, sebenarnya itu adalah luka di atas luka
Yang kemudian menyembelih matamu dengan lirikan dan tangisan
Hingga hatimu pun jadi tersembelih dan tersembelih
11.         Pandangan liar akan menghilangkan cahaya bashirah (mata hati), karena balasan itu sebanding dengan amalan. Sedang menundukkan pandangan akan menumbuhkan cahaya mata hati dan mewariskan firasat (yang benar) sebagaimana dikatakan Syah bin Syuja’ Al-Kirmani, “Barangsiapa yang zhahir umurnya mengikuti sunnah, sementara batinnya senantiasa bermuraqabah, menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, menahan jiwanya dari nafsu syahwat dan membiasakan diri dengan yang halal, niscaya firasatnya tak akan pernah salah.” Syah bin Syuja’ adalah orang yang tidak oernah salah firasatnya.

Nah kurang lebih itu beberapa akibat yang bisa nitha tuliskan, kalo dituliskan semuanya buanyak banget, udda malem juga sahabat, jadi nitha mau istirahat.hehe

Semoga dilain kesempatan nitha masih bisa berbagi ilmu yaa dengan sahabat semua..aamiin..

Makasih gag bosen-bosennya mampir di blog nitha…J

See you bye-bye…

Sabtu, 03 November 2012

..Jilbab untuk Hati..


Mendung menyelimuti kota Samarinda sejak pagi hingga sore, terkadang di selingi gerimis mengguyur tanah Borneo ini

Dalam diam, aku berfikir. Aku ingin menuliskan sesuatu, menuliskan apa yang ada di hatiku.

Okeh, aku tergerak untuk mengambil Lepiku, dan tanpa menunggu waktu lama, tanganku menari diatas keyboard yang ada di hadapanku. Sembari menghafalkan letak huruf-huruf itu bertahta.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh..:)

Hehe, kayaknya serius banget yaa nitha buka tulisan kali ini. Yaa kali ajja nanti nitha bisa jadi penulis yang terkenal.aamiin..

Sore ini emang mendung menyelimuti kota-ku, dingin-dingin gimana gitu. Jadi males mau keluar rumah.(bukannya udah biasanya males ya nitha..??)hehe..

Kali ini nitha masih ingin membahas tentang jilbab dan kerudung bagi muslimah. Sahabat semua pasti udah tau kalo sebagai muslimah, diwajibkan mengenakan pakaian taqwa yaitu jilbab (pakaian kurung ato yang biasa disebut gamis) dan mengenakan kerudung (penutup kepala).

Tapi kadang nitha suka heran, ketika ditanya, “kok belum mengenakan jilbab dan kerudung?”

Pasti jawabannya macem-macem, salah satunya, “aku belum siap memakainya, takutnya nanti berkerudung tapi kelakuan masih jelek, mending jilbabin hati dulu deh” atau “buat apa menutup aurat kalo akhlaknya jelek”.

Dan masih banyak lagi jawaban-jawaban yang senada seperti diatas yang dilontarkan oleh para muslimah.

“jilbabin hati dulu deh”

Wait wait wait..
Memangnya hati bisa dijilbabin yaa. Beli dimana tuch jilbabnya, kasih tau nitha dong, biar nitha tau gitu n gag ketinggalan jaman kalo ada jilbab buad hati..hehe

Trus kalo ada perintah ikhwan untuk memelihara jenggot, nanti ada dong jawaban, “aku jenggotin hatiku dulu deh”..hehehe..

“buad apa menutup aurat kalo akhlaknya jelek”

Bearti yang bilang kayak gitu akhlaknya udah baik dong. Kalo udah baik, makanya ayok dipake jilbab dan kerudungnya, biar bisa jadi tauladan para jilbabers yang akhlaknya masih belom baik, kan sesuatu banget tuch.hehe.. jadi gag ada lagi deh jilbabers yang akhlaknya belom baik.

Jangan malah ngata-ngatain mulu, tapi gag ngasih contoh. Pantesan aja nama baik jilbab dan kerudung makin tercoreng. Dan kita sendiri yang membuat nama baik itu tercoreng, apa gag miris tu sahabat.

Tapi juga gag bisa dipungkiri sekarang udah banyak yang memakai kerudung, mungkin karena kerudung jaman sekarang keren-keren kali yaa..

Ada yang dililit-lilit, dikepang-kepang, diputer kesana kemari ampe pusing kerudungnya,hehe..

Tapi coba deh kalo disuruh pake kerudung syar’I, pasti pada kaabuurr. Yang katanya gag modis, kerudungnya kegedean, panas, kayak nenek-nenek bahkan takut kelihatan gag cantik.ckckckck..

Padahal sebenernya itu bukan definisi kerudung yang sesungguhnya, apa sih kerudung itu..??

“...dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya)...” (QS An-Nur : 31)

Nah jadi kerudung itu kain penutup kepala yang menjulur hingga ke dada kan, bukan yang hanya melilit hingga ke leher ajja bukan? Alhamdulillah sekarang udah tau apa itu kerudung, nah sekarang tinggal apa itu jilbab?

Terkadang banyak orang yang salah menyebutkan antara kerudung dan jilbab, terjadi kerancuan arti dari kedua kata tersebut, yang notabene beda jaaauuuhhh banget. Kalo ibarat kata dari sabang sampai merauke itu masih kurang jauh sahabat.hehe

“wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab : 59)

Naaa itu sahabat, jilbab itu sejenis baju kurung yang lapang, yang tidak menampakkan lekuk tubuh, dan tidak transparan.

Jadi beda banget kan antara jilbab dan kerudung. So jangan samain antara keduanya. Okeh okeh..hehe

O iya, dari ayat di atas juga udah jelaskan sahabat, bahwa menutup aurat itu bukan pilihan, tidak ada pula hubungannya dengan paksaan seseorang dan bukan peraturan dari pihak manapun, missal pemerintah. Tapi ini adalah perintah WAJIB dan langsung dari Sang Pencipta kita.

So nunggu apa lagi untuk menutup aurat kita..??

Ayok ayok semangat sahabat untuk menutup aurat..semangat yaa..(^_^)

Jangan bosen-bosen ngunjungi blog-ku ini yaa, dan jangan lupa meninggalkan komentar juga. Hehe..

See you bye bye..(^_^)

Sabtu, 27 Oktober 2012

..Dua Telaga..


Assalamu’alaykum readers…J

Kali ini nitha akan mengangkat sebuah kisah yang mungkin sudah pernah kita dengar atau sudah kita ketahui, namun mungkin ada juga yang belum mengetahuinya.

Sebenarnya nitha juga baru kali pertama ini membaca kisahnya, sehingga nitha ingin berbagi pengetahuan kepada sahabat-sahabat nitha di dunia maya ini…J. Kisah ini terdapat di dalam prolog sebuah buku yang berjudul “Dalam Dekapan Ukhuwah” karya Salim A.Fillah/Pro-U Media.

Nitha mendapat prolog ini juga dari sahabat nitha yang notabene juga di dunia maya, kita saling mengirim kabar dan saling bertukar pengalaman atau bahkan saling bertukar kisah hidup satu sama lain melalui surat elektronik (red:email). Masyaallah indahnya ukhuwah islamiyah, walau terpisah ribuan kilometer, tetapi merasa dekat di hati…J

Eh malah nitha jadi cerita panjang lebar nich…hehe. Ya udda yuks langsung kita simak prolog yang nitha dapat…J

TELAGA ITU LUAS, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun tlinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat,silahkan minum!”

Lalu dia bicara penuh cinta, dengan mata berkaca-kaca “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”
Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”

Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu lebih manis dari madu, dan lebih sejuk daripada salju. Di telaga itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.

Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu Al-Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.
***

Telaga lain yang lebih kecil, konon pernah ada dalam cangkungan sebuah hutan di Yunani. Dan ke telaga itu, setiap pagi seorang lelaki berkunjung. Dia berlutut di tepinya, mengagumi bayangannya yang terpantul di air telaga. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Matanya berkilau. Alis hitam dan cambang di wajahnya berbaris rapi, menjadi kontras yan menegaskan di kulit putihnya.

Lelaki itu, kita tahu , Narcissus. Dia tak pernah berani menjamah air telaga. Dia takut citra indah yang dicintainya itu memudar hilang ditelan riak. Konon, dia dikutuk oleh Echo, peri wanita yang telah ditolak cintanya. Dia terkutuk untuk mencintai tanpa bisa menyentuh, tanpa bisa memiliki. Echo meneriakkan laknatnya di sebuah lembah, menjadi gema dan gaung yang hingga kini diistilahkan dengan namanya.

Maka di tepi telaga itu Narcissus selalu terpana dan terpesona. Wajah dalam air itu mengalihkan dunianya. Dia lupa pada segala hajat hidupnya. Kian hari tubuhnya melemah, hingga satu hari dia jatuh dan tenggelam. Alkisah, di tempat dia terbenam, tumbuh sekuntuk bunga. Orang-orang menyebut kembang itu, Narcissus.
Selesai

Tetapi Paulo Coelho punya anggitan lain untuk kisah Narcissus. Dalam karyanya The Alchemist, tragika lelaki yang jatuh cinta pada diriya sendiri itu diakhiri dengan lebih memikat. Konon, setelah kematian Narcissus, peri-peri hutan datang ke telaga. Airnya telah berubah dari semula jernih dan tawar menjadi seasin air mata.

“Mengapa kau menangis?” Tanya para peri.
Telaga itu berkaca-kaca. “Aku menangisi Narcissus,” katanya.
“oh, aku heranlah kau tangisi dia. Sebab semua penjuru hutan selalu mengaguminya, namun hanya kau yang bisa mentakjubi keindahannya dari dekat.”
“oh, indahnya Narcissus?”
Para peri hutan saling memandang “ siapa yang mengetahuinya lebih daripadamu?” kata salah seorang “di dekatmulah tiap hari dia berlutut mengagumi keindahannya.”
Sejenak hening menyergap mereka .”aku menangisi Narcissus”, kata telaga kemudian, “tapi tak pernah kuperhatikan bahwa dia indah. Aku menangisi karena, kini aku tak bisa lagi memandang keindahanku sendiri yang terpantul di bola matanya tiap kali dia berlutut di dekatku.”
***

Setiap kita punya kecenderungan untuk menjadi Narcissus. Atau telaganya. Kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat bagi segala yang kita perbuat dan semua yang ingin kita dapat. Kita berpayah-payah agar ketika manusia menyebut nama kita yang mereka rasakan adalah ketakjuban pada manusia paling memesona. Kita mengerahkan segala daya agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna.

Kisah tentang Narcissus menginsyafkan kita bahwa setinggi-tinggi nilai yang kita peroleh dari sikap itu adalah ketakmengertian dari yang jauh dan abainya orang dekat. Kita menuai sikap yang sama dari sesame, seperti apa yang kita tabor pada mereka. Dari jaraknya, para peri memang takjjub, namun dalam ketidaktahuan. Sementara telaga itu hanya menjadikan Narcissus sebagai sarana untuk mengagumi bayangannya sendiri. Persis sebagaimana Narcissus memperlakukannya. Pada dasarnya, tiaap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya.

Tetapi ‘Amr ibn Al-‘Ash merasakan ketiadaan sikap ala Narcissus pada seorang Muhammad, lelaki yang sesampai di surgapun masih menjadikan diri pelayan bagi ummatnya. Telah belasan tahun menjadikan silat lidahnya sebagai senjata paling mematikan bagi da’wah Sang Nabi. Lalu setelah hari Hudaibiyah yang menegangkan itu, hidayah menyapanya. Dia, bersama Khalidibn Al Wahid dan ‘Utsman ibn Thalhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Mereka disambut senyum Sang Nabi, dilayani bagai saudara yang dirindukan, dimuliakan begitu rupa.

Bagaimanapun, ‘Amr merasa hanya dirinya yang istimewa. Itu tampak dari sikap, kata-kata, dan perilaku Sang Nabi padanya. Hari itu dia merasa Sang Rasul pastilah mencintainya melebihi siapapun, mengungguli apapun. Pikirnya, itu disebabkan bakat lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi da’wah. Terasa sekali. Maka dia beranikan diri meminta penegasan. “Ya Rasullullah”, dia berbisik ketika kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Siapakah yang paling kau cintai?”

Sang Nabi tersenyum, “Aisyah.” Katanya.

“maksudku,” Kata ‘Amr, “dari kalangan laki-laki.”

“Ayah Aisyah.” rasulullah terus saja tersenyum padanya.

“Lalu siapa lagi?”

“Umar.”

“Lalu siapa lagi?”

“’Utsman,” dan beliau terus tersenyum.

“Setelah itu,” kata ‘Amr berkisah di kemudian hari, “Aku menghentikan tanyaku, Aku takut namaku akan disebut paling akhir.” ‘Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Khalid dan ‘Utsman, bahwa Muhammad adalah jenis manusia yang membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga. Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.

Nabi itu indah dan menakjubkan memang. Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa berada di dekatnya menjadikan setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa memesona. Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.
***

Ehm begitulah prolog yang nitha dapat…J
Dalam sabda Muhammad shallallahu ‘Alaihi wa sallam yang menghimbau kita untuk bercermin. Seperti Narcissus, tapi bukan di telaga.

“Mukmin yang satu”, kata Sang Nabi, “Adalah cermin bagi mukmin yang lain.”

Bercerminlah, tetapi bukan untuk mengagumi baying-bayang sendiri seperti Narcissus atau telaganya. Namun lebih menjadikan sesame peyakin seperti cermin, dan melihatnya secara seksama. Jika kita menemukan sesuatu yang tidak berkenan di hati kita dalam bayangan itu, kita tahu, harus memperbaikinya. Tetapi bukan memperbaiki bayangan itu melainkan diri kita yang sedang mengaca…J

Semoga kita semua mendapaat ibroh dari tulisan ini yaa teman-teman..aamiin…J

semangkA (semangat karena Allah)…J
see you bye bye…

Kamis, 25 Oktober 2012

..SURAT CINTA BUAT UKTHY BERKERUDUNG..


Assalamu’alaykum readers…

Alhamdulillah, akhirnya bisa Menuhin blog nitha lagi…hehe
Setelah sekian lama gag buka blog nitha ini, karena ada sebab lainnya…J

Kali ini nitha pengen menyampaikan sebuah surat cinta dari sang akhi pada sang ukhty, tapi nitha juga sedih bacanya, tnyata isi hati sang akhi seperti itu terhadap sang ukhty…hiks
Ehm mudahan ajja, dengan nitha men-share surat cinta ini, banyak ukhty yang jadi mengerti isi hati sang akhi…aamiin..:)

Yaa udda deh, gag usah lama-lama nitha ngomongnya (tapi kan nitha gag ngomong…hehehe), yuks kita baca surat cinta buat ukhty dari akhi…J

Ini adalah unek-unek saya yang banyak dikecewakan oleh performa para muslimah yang nampak di depan kedua biji mata saya sehari-hari. Di tengah kegembiraan banyak orang yang melihat kerudung pada saat ini menjadi trending fashion banyak muslimah, saya sebenarnya gemas, kecewa, galau dan marah, tapi juga bingung.

Pangkal kekecewaan saya adalah soal kesenjangan antara kerudung dengan gaya hidup mereka. Mengapa banyak muslimah yang berkerudung sekedar puas dengan berkerudung. Seolah-olah kerudung itu sudah babak final dalam penampilan dan lifestyle, kenapa mereka tidak mau meningkatkan kepribadian mereka, pemahaman mereka dan menjaga diri mereka? Kenapa? Kenapa? Please, somebody help me!

Coba, pembaca pikirkan, bagaimana saya tidak bingung melihat seorang muslimah berkerudung tapi body mereka tampak melendung-melendung. Wajah manis berkerudung dalam balutan kemeja ketat yang kancingnya seolah mau meloncat karena ketarik bodi mereka yang sudah baligh, dan panggul ke bawah dililit jeans ketat – malah ada juga yang nekat pake legging (gubraaag) – sehingga ‘aset nasional’ mereka dikibarkan ke mana-mana.

Ukhtiiiiii….! Maaf kalau saya sarkastis, tapi Anda ini kan muslimah, bukan hewan qurban yang dinilai dari bobot badan dan kemontokan tubuh. Sapi dan domba qurban sengaja di-display-kan dengan vulgar di pinggir jalan agar orang-orang yang mau berkurban ngiler untuk membelinya dan mengurbankannya untuk fakir miskin.

Tapi ukhti kan muslimaaaah, bukan kambing qurban. Semakin Anda tertutup semakin ‘mahal’ harga ukhti di hadapan Allah, beda dengan hewan qurban yang semakin nampak sintal bodinya makin mahal harganya. Pahamkah kekesalan saya, ukhti?!Ini bukan berarti saya ini maho atau cowok KW. Bukan. Saya pria tulen.

Saya senang dengan kecantikan dan keindahan wanita karena itu kodrat saya, tapi kan Allah melarang saya meneropong tubuh ukhti dari ujung rambut ke ujung jempol.
Jadi, please, saya minta kerja samanya, jangan bikin hidup saya yang susah jadi tambah susah. Kalau memang ukhti cantik dan punya penampilan berkelas biarlah suami ukhty saja yang nanti berhak untuk melihatnya. Saya masih lelaki dan saya masih takut nambah saldo dosa.Pakaian ukhti bila keluar rumah adalah kerudung dan baju panjang yang kita sebut jilbab. Itu yang diperintahkan Allah kepada ukhti dan yang sekaum dengan Anda. Kalau ukhti senang dengan tank top, baby doll, mini skirt, atau hotpants ya silakan dipakai di balik jilbab ukhti. Tidak usah saya diajak mengintip semuanya.

Saya juga gerah dan marah kala menyaksikan ada remaja berkerudung jadi alay-alay di layar kaca. Entah di acara In***, D*****t, atau yang sejenisnya. Sama saat saya juga geli dan ketawa garing ngeliat ukhti-ukhti berkerudung ngantri tiket Justien Biber atau Lady Gaga!


Tapi bukan soal itu saja yang membuat emosi saya kadang meradang melihat ukhti dan teman-teman ukhti. Ada soal lain yang saya terus terang gerah dan jadi garang. Apa? Pacaran! Saya sering geleng kepala kalau sudah melihat akhwat berkerudung – apalagi berjilbab – berasyik masyuk dengan cowok yang bukan mahram dan suami juga bukan.Boleh percaya atau tidak, ukhti, saya pernah mendamprat – ini mungkin terlalu dramatisasi, tepatnya mempermalukan – sepasang kekasih di dalam angkot. Keduanya siswa almamater sekolah saya. Tapi yang bikin kepala panas adalah ceweknya berkerudung rapih dan cowoknya berjenggoooot (saya saja sampai sekarang belum sukses menumbuhkan jenggot!) Keduanya duduk di pojokan angkot dan tangan tuh cewek ada dipangkuan cowoknya sambil diremas-remas. !Astaghfirullah al-‘azhim!“Udah nikah, belum?” tanya saya panas.“Eh, belum, Pak?” jawab tuh cowok blingsatan sambil melepaskan tangan ceweknya. Untung nggak dilepaskan dari persendian badannya. Bla, bla, bla, saya nasihatin mereka berdua. Entah keduanya paham omongan saya atau tidak. Entah setelah itu mereka bubar pacaran atau malah menganggap sikap saya sebagai ujian.

Di mana-mana saya sering lihat akhwat berkerudung berasyik masyuk dengan pacar-pacar mereka. Di atas motor Kawasaki Ninja yang keren ada akhwat yang lengket ke punggung cowoknya ( jadi ingat seseorang...siapa ya...). Karena tuh motor Jepang jok belakangnya nungging maka cewek berkerudung itu ikutan nungging dan makin bersandar ke punggung cowoknya. Mungkin sambil berpikir bangga ‘cowok gue motornya keren’. nggak peduli pada komentar orang-orang yang menyaksikannya. Saya sebaaal lihat ukhti seperti itu.

Saya juga marah pada kawan saya yang pernah cerita kalau dia pernah diajak warga menggerebeg sepasang mahasiswa yang sedang mesum di malam hari di bulan suci Ramadhan. Ceweknya…..? Mahasiswi berkerudung! Coba bayangkan saudara-saudara, keduanya ketangkap basah sedang mesum di bulan Ramadhan pula! Saat orang berburu pahala, mereka malah saling berburu paha (tanpa la). Kalau mereka orang atheis, saya nggak bakal marah. Tapi dia berkerudung. Sad but true. Saya marah pada kawan saya itu kenapa story buruk kayak begini harus diceritakan pada saya. Bikin saya makin sebal pada ukhti berkerudung yang liar seperti itu. Tapi itu bukan satu-satunya cerita, masih banyak cerita yang serupa yang saya dengar dari kawan-kawan yang lain. Ada juga yang cerita kalau di antara cewek berkerudung itu ada yang jadi wanita panggilan. Malah katanya tarifnya premium call alias bisa lebih mahal karena kesannya eksotis dan reliji.Saya jadi bertanya; untuk apa sih ukhti berkerudung? Apa makna hijab dalam kehidupan ukhti? Tolong jawab 1 x 24 jam dari sekarang! Sering saya dengar ada kalangan yang bilang ‘jilbabi dulu hatimu sebelum tubuhmu’. Apa maksudnya? Sok berfilsafat tapi gajebo, ga’ jelas bo!

Nanti para cewek yang pakai hotpants bisa berdalih ‘ mas, jangan lihat tubuh seksi saya, tapi rasakan hati saya yang berjilbab’ Pernahkah ketika ukhti memutuskan untuk berkerudung apalagi berjilbab merenung bahwa harus ada sebuah perubahan dalam hidup ukhti? Akan lebih terjaga, lebih dekat kepada Allah, dan lebih berani meninggalkan maksiat?Kekesalan itu saya tumpahkan di sini, biar ukhti baca kalau apa yang ukhti lakukan itu berbahaya, dosa dan merusak korps akhwat berkerudung dan berjilbab. Kalaupun ukhti tidak baca, saya berharap agar ada yang meng-copy paste tulisan ini dan sharing ke mana saja agar dibaca oleh ukhti dan yang se-alam dengan ukhti.

Untuk ukhti yang sudah terlanjur membacanya dan marah-marah, saya harap agar malam nanti merenung; sudah benarkah gaya hidup saya? Percayalah, mencopot kembali kerudung bukan jawaban yang benar. Yang harus ukhti lakukan adalah terus menyelam dalam ajaran Islam yang indah dan menyejukkan ini. Banggalah sebagai akhwat berjilbab dan jagalah kehormatan diri sampai mati. That’s all, ukhti fillah!
Ukhti ku Berkerudung...

SUMBER : page Jangan Jadi Muslimah Nyebelin.
Posting by : Ameera

Ehm, ya ternyata begitulah isi hati akhi. Semoga surat cinta ini bisa menjadi bahan renungan kita sebagai seorang ukhty. Sungguh hati nitha teriris-iris membacanya, ternyata begitu to penilaian akhi. Tapi nitha juga berterima kasih si, karena tulisan ini bias jadi bahan renungan untuk kita semua, dan semoga bisa menjadi seorang ukhty yang lebih baik lagi.aamiin…J
Semangat ukhty-ukhty cantik yang sedang berjuang untuk selalu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Yuks mari kita berjuang bersama, karena notabene nitha juga sedang berjuang seperti anti-anti semua…(^_^)
S.E.M.A.N.G.A.T…J

Sabtu, 08 September 2012

..Kematian..


hay readers..(^_^)

pasti kalian berpikir, apaan sich nitha nich, tiba-tiba kok ngomongin soal MATI..serem banget ah..

hehe..yaa emang serem sich bahkan sangat menakutkan, tapi memang sudah seharusnya bukan kita sebagai manusia harus selalu mengingat kematian.

Yach kematian, dia bisa datang kapan saja jika Allah sudah menghendaki kita segera menghadap-Nya. Saad ini juga mungkin, atau 1 jam yang akan datang, atau saad kita tidur nanti dan tak terbangun di esog harinya, atau 1 tahun yang akan datang atau bahkan sampai kita berumur 60an. Kita tidak ada yang tau kapan kematian itu akan datang, bahkan walau jaman sudah serba canggih, belum ada yang bisa memprediksikan kematian, yaa karena kematian adalah rahasia Allah, hanya Dia yang tau kapan ajal akan menjemput kita.

Terkadang aku sampai menitikkan air mata ketika aku mengingat kematian. Mungkin semua itu terdengar klise atau bahkan ada yang menganggap itu berlebihan. Yach kata anak sekarang sich LEBAY. Tapi aku tak peduli dengan perkataan-perkataan miring seperti itu. Bukankah memang benar kita akan menghadapi sebuah kenyataan yang namanya KEMATIAN..??

Terkadang di saad aku akan keluar rumah, aku teringat, akan kah nanti aku bisa kembali kerumah ini untuk berkumpul bersama mereka..??

Di saad aku akan terlelap dalam tidur nyenyakku, aku teringat, akan kah besog pagi aku dapat membuka mata ini dan menghirup segarnya udara pagi..??

Di saad aku bertengkar dengan sahabatkku, aku teringat, akan kah ada kesempatan untuk mengucapkan kata maaf..??

Di saad aku berada diperjalanan menuju ke suatu tempat, aku teringat, akan kah aku akan selamat sampai tujuan..??

Dan masih banyak pertanyaan yang muncul dibenakku tentang kematian, tapi lagi-lagi tidak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku itu.

Masih adakah waktu untukku berbenah diri, kembali ke jalan-Nya..??

Aku tersadar, kalau bukan sekarang untukku berbenah diri dan kembali ke jalan-Nya, kapan lagi..??

Memang ada yang menjamin kalau kita masih bisa menghirup segarnya udara pagi di esog hari..?? tidak ada bukan.

Hanya penyesalan yang ada akan dosa-dosa yang pernah ku perbuat, namun semoga penyesalan itu bukan hanya sebuah penyesalan, melainkan membuahkan hasil untuk menjadi pribadi yang lebih baik..(^_^)

Lakukan yang terbaik, dan jadilah yang terbaik, saad ini juga..

See u bye bye..(^_^)

Sabtu, 31 Desember 2011

..Hukum Islam dalam menyambut / merayakan Tahun Baru Masehi..

Hukum Islam dalam menyambut / merayakan Tahun Baru Masehi

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Rabb yang maha pengasih lagi maha penyayang. Shalawat dan salam untuk Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam, Semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wasallam sampai hari kiamat.



Wahai saudaraku yang mencintai sunnah, tak terasa kita saat ini berada dipenghujung perhitungan tahun masehi. Sungguh ada hal-hal yang patut kita waspadai dan cermati. Karna disana, dipenghujung tahun masehi biasanya ada perayaan-perayaan yang merupakan salah satu ibadahnya kaum nasrani. Kaum yang menyimpang dari ketentuan Allah Azza wa Jalla.



Untuk itu, sebagai bentuk kehati-hatian dan menaati Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, agar aqidah kita sebagai seorang muslim tetap terjaga, dan tidak terjebak kedalam budaya jahiliyah dan budaya kaum kufar. Maka pada postingan kali ini, kami akan membawakan fatwa-fatwa dari Ulama-ulama terkemuka dunia yang berdomisili di Saudi Arabia, yang tergabung dalam Al-Lajnah ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al ifta. Yang diketuai oleh Syaikh 'Abdul-'Aziz bin 'Abdullaah bin Muhammad aalus-Syaikh, dengan Wakil Ketua Syaikh 'Abdullaah Ibnu 'Abdur-Rahmaan al-Ghudayyaan, dan Anggotanya Syaikh Saalih bin Fauzaan al-Fauzaan serta Syaikh Bakar bin 'Abdullaah Abu Zaid. Dimana keilmuan mereka ini tak diragukan lagi, mereka terkenal akan ke ke-Istiqomahannya dalam menegakkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah didalam kehidupan mereka. Dan kami sampaikan bahwa postingan ini juga banyak mengambil manfaat dan mengutip, dari pengantar fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama tersebut. Semoga Allah menjaga mereka dan merahmati apa yang mereka usahakan.



Sungguh saudaraku se-Iman se-aqidah, nikmat yang ter-besar yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kita, para hamba-Nya, adalah nikmat Islam, dan nikmat hidayah kepada jalan-Nya yang lurus. Dimana Allah Ta’ala mewajibkan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohon hidayah-Nya di dalam setiap shalat-shalat yang didirikan, dan kita selaku hamba-Nya memohon kepada-Allah Azza wa jalla, agar mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus dan istiqomah di atasnya. Dan dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan karakteristik jalan tersebut, yakni jalan orang-orang yang Allah beri nikmat, jalannya para Nabi, jalannya para shiddiqin, jalannya para syuhada dan jalannya orang-orang lurus, dan bukan jalan orang-orang yang menyimpang darinya, yakni Yahudi, Nashrani dan seluruh orang-orang kafir dan musyrikin.



Tentunya, jika nikmat-nikmat terbesar tersebut sudah diketahui dan disadari oleh setiap jiwa-jiwa kaum muslimin, maka wajib bagi seorang Muslim untuk mengenal kadar nikmat tersebut, yang dengan nikmat tersebutlah, mestinya kita bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla melalui lisan, amalan dan keyakinan kita. Selain itu tentunya kita juga hendaknya menjaga nikmat tersebut, dan memeliharanya, serta melakukan sebab-sebab yang dapat menghindarkan hilangnya nikmat tersebut dari diri kita. Dan beruntunglah, serta bersyukurlah, orang-orang yang telah diberikan pandangan yang mendalam yakni bashirah terhadap Dienullah, Bashirah terhadap Agama allah yang haq dan lurus ini dalam menjalani kehidupan, (semoga kita termasuk di dalamnya ! ).



Wahai saudaraku yang membenci bid’ah, kita ketahui dan rasakan bersama, saat ini telah terjadi pen-campur-adukan antara al-haq dan al-batil atas kebanyakan orang. Maka bagi orang-orang yang diberikan Bashirah, ia akan melihat dengan jelas segala upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam, untuk menghilangkan kebenarannya, dan memadamkan cahayanya, untuk menjauhkan kaum muslimin dari agamanya serta menghilangkan jalan yang memungkinkan untuk kembali pada Dienul Islam yang haq. Selain itu ikhwa fillah, marak sekarang ini propaganda, dalam upaya memperburuk citra Islam, dengan melakukan kebohongan-kebohongan atasnya, guna menghalangi seluruh manusia dari jalan Allah dan dari beriman kepada wahyu yang diturunkan atas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk itu mari kita perhatikan firman Allah Azza wa Jalla di dalam Surah Al-Baqoroh ayat 109 :

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ



لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا



حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ



مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Yang artinya : “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”



Selanjutnya didalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imron ayat 69, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :



وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ



وَمَا يُضِلُّونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ



Artinya : “Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.”



Selain itu, diayat yang lain, yakni ayat ke-149, namun masih dalam Surah yang sama, yakni Surah Ali Imron, Allah azza wa Jalla berfirman :



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا



إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا



يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ



فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ



Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta`ati orang-orang yang kafir tu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Jadi telah nyata dan jelas, bahwa orang-orang kafir dalam hal ini khusunya para ahli kitab, akan menghalang-halangi kita dari jalan Allah.



Namun kita janganlah bersedih atau berputus asa, karna meskipun demikian, Allah Ta'ala telah berjanji untuk menjaga Dien-Nya dan kitab-Nya, dari kejahilan dan peng-rusakan orang-orang kafir. Dimana Allah berfirman di dalam Surah Al-Hijr ayat 9 :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ



Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.



Dan tentunya, segala puji bagi Allah.



Dimana, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita, bahwa akan selalu muncul suatu golongan dari umatnya yang berjalan di atas al-haq, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka, ataupun menentang mereka, hingga datangnya hari Akhir.



Sekalai lagi wahai saudaraku. Segala puji bagi Allah, dan kita memohon kepada-Nya, Yang Maha Dekat dan Mengabulkan Do’a, agar menjadikan kita dan saudara-saudara kita kaum Muslimin, termasuk dari golongan tersebut, yakni Thaifah Al-Mansyurah. Atau yang juga biasa disebut Al-Firqotun an-Najiyah.



Untuk itu, selalu lah dalam ketaqwaan kepada Allah, perbanyaklah bermajelis ilmu yang didalam nya diajarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah, dan ber-amallah sesuai dengan kemampuan kita serta bersabarlah. Sungguh apabila kita menetapi jalannya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Ridwanallahu ‘alaihim jamian, kita akan terselamatkan di dunia dan akhirat. Insya Allah !



Karna Rasulullah telah mengabarkan bahwa yang namanya jama’ah itu yakni Ma ana alaihi wa ashabi “Yang Aku dan para Sahabatku berada diatasnya”. Jadi jangan ragu untuk mengamalkan Sunnah-sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam di dalam kehidupan kita. Memang kita akan terasa asing ketika mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah, namun memang begitulah yang digariskan. Bahwa Islam itu awalnya asing, kemudian akan kembali asing. Dimana umatnya akan merasa asing ketika ada orang yang mengamalkan sunnah. Selain itu juga ada sebagian yang berpendapat, bahwa mengamalkan sunnah sekarang ini, ibaratkan menggenggam bara api... namun tidaklah mengapa wahai saudaraku, karna barangsiapa yang menegakkan sunnah, ia akan mendapatkan kemenangan yang besar. Dan tentunya apabila kita berpegang dan menjalankan apa yang Rasulullah sampaikan, kita tidak akan dapat disesatkan oleh para ahli kitab dan kaum kufar lainnya. Karna kita telah mengetahui makar-makar serta propaganda-propaganda mereka, melalui hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam, serta atsar-atsar para sahabat Ridwanallahu ‘Alaihim Jamian. Semoga Allah Azza wa Jalla selalu melimpahkan kepada kita Hidayah, dan memberikan kepada kita Ilmu yang bermanfaat, serta memberikan kita kemudahan dan kekuatan untuk mengamalkan Sunnah. Laa hau laa wa laa quata illa billah... tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah



Dan sebagaimana yang ana sampaikan diawal, bahwa pada postingan kali ini akan berisikan fatwa-fatwa Ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al ifta. Yakni Komite Permanen untuk Penelitian Islam dan Fatwa, yang diketuai oleh Syaikh 'Abdul-'Aziz bin 'Abdullaah bin Muhammad aalus-Syaikh, dengan Wakil Ketua Syaikh 'Abdullaah Ibnu 'Abdur-Rahmaan al-Ghudayyaan, yang beranggotakan Syaikh Saalih bin Fauzaan al-Fauzaan serta syaikh Bakar bin 'Abdullaah Abu Zaid. Dimana Komite Permanen untuk Penelitian Islam dan Fatwa ini, setelah mendengar dan melihat adanya penyambutan yang begitu meriah, dan perhatian yang serius dari orang-orang Yahudi dan Nashrani, serta orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam, serta yang terpengaruh oleh mereka, berkenaan dengan berakhirnya tahun Masehi dan datangnya tahun baru Masehi, menurut kalender Eropa atau Masehi, maka tidak bisa tidak, Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta merasa perlu dan berkewajiban memberikan nasehat, dan penjelasan kepada seluruh kaum Muslimin tentang makna momentum ini, serta hukum syariat Islam yang murni ini atasnya, sehingga kaum Muslimin memahami dengan baik Agama mereka, dan berhati-hati atas penyimpangan, dan kesesatan yang dimurkai Allah .



Berikut petikan fatwa tersebut, dimana Dikatakan didalam fatwa pertama :



Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani menyertakan atas millennium ini berbagai kejelekan, penderitaan, harapan-harapan, dengan begitu yakin akan terealisasinya hal itu atau paling tidak kearahnya, karena menurut anggapan mereka hal ini telah melalui riset dan penelitian. Demikian pula, mereka mengkaitkan sebagian permasalahan doktrin mereka dengan momentum ini dengan anggapan bahwa hal itu berasal dari ajaran kitab-kitab mereka yang sudah dirubah. Maka, wajib bagi seorang Muslim untuk tidak tertarik kepada hal itu dan tergoda olehnya bahkan seharusnya muslimin merasa cukup dengan Kitab - Rabbnya Ta'ala - dan Sunnah NabiNya (Shallallahu 'alaihi wasallam) dan tidak memerlukan lagi selain keduanya. Sedangkan teori-teori dan spekulasi-spekulasi dan pernyataan atau opini yang bertentangan dengan keduanya tidak lebih hanya kepalsuan belaka.



Adapun fatwa yang kedua :



Momentum ini (yakni perayaan tahun baru Masehi) dan semisalnya, tidak lepas dari pen-campur-adukan antara al-haq dan al-bathil, propaganda kepada kekufuran, kesesatan, tidak bermoral dan kemurtadan yang merupakan manifestasi dari kesesatan menurut syari'at Islam. Diantaranya propaganda kepada penyatuan agama-agama atau pluralisme, penyetaraan Islam dengan aliran-aliran dan sekte-sekte sesat lainnya, penyucian terhadap salib dan penampakan simbol-simbol kekufuran, yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani dan Yahudi, serta perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan semisalnya yang mengandung beberapa hal ; bisa jadi pernyataan bahwa syari'at Nashrani dan Yahudi yang sudah diganti dan dihapus tersebut, dapat menyampaikan kepada Allah juga. Bisa jadi, adanya anggapan baik terhadap sebagian dari ajaran kedua agama tersebut yang bertentangan dengan Dien al-Islam. Semuanya dalam rangka penambahan atas fakta, yang merupakan bentuk kekufuran kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada Islam dan konsensus atau ijma' umat ini. Apalagi hal itu adalah sebagai salah satu bentuk penjauhan Muslimin dari ajaran-ajaran agama mereka.



Adapun fatwa yang ketiga Berbunyi :



Banyak sekali dalil-dalil dari al Kitab dan as-Sunnah, serta atsar-atsar yang shahih (dari Sahabat dan lainnya), yang melarang untuk menyerupai orang-orang kafir, di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka. Diantara hal itu adalah menyerupai mereka dalam festival hari-hari besar dan pesta-pesta mereka. Hari besar maknanya (secara terminologis) adalah sebutan bagi sesuatu, termasuk didalamnya setiap hari yang datang kembali dan berulang, yang dirayakan oleh orang-orang kafir. Atau sebutan bagi tempat orang-orang kafir dalam menyelenggarakan perkumpulan keagamaan.

Jadi, setiap perbuatan yang mereka ada-adakan di berbagai tempat, atau waktu-waktu keagamaan mereka, maka itu termasuk hari besar atau 'Ied mereka. Karenanya, larangannya bukan hanya atas hari-hari besar yang khusus buat mereka saja, akan tetapi setiap waktu dan tempat, yang mereka rayakan atau agungkan, yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam Dienul Islam. Demikian pula termasuk larangan, perbuatan-perbuatan yang mereka ada-adakan di dalamnya, juga termasuk ke dalam hal itu. Ditambah lagi dengan hari-hari sebelum dan sesudahnya, yang nilai religiusnya bagi mereka sama saja, sebagaimana yang disinggung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam Iqtida as-Siraat al-Mustaqim.

Diantara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman-Nya di Surah Al-Furqoon ayat 72 :

وَالَّذِينَ لاَ يَشْهَدُونَ الزُّورَ

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu...

Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Sekelompok Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Rabi' Ibnu Anas, menafsirkan bahwa kata "Az-Zuura" (di dalam ayat tersebut) diartikan sebagai hari-hari besar orang kafir.



(kemudian) Dalam hadits yang shahih, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, saat Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa sallam) datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar atau 'Ied untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, "Dua hari untuk apa ini ?". Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyyah". Lantas beliau bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya : Iedul Adha dan Iedul Fithri" hadits ini derajatnya shohiih, Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunanul-Kubra dan dalam Kanzul-'Amal.



Selain itu Umar Ibn al Khaththab Radhiyallahu 'anhu berkata, "Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka" Umar Ibn Al Khaththab Radiyallahu ‘anhu berkata lagi, "Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka". Hadits ini Sahih, diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Musannaf, dan telah disahihkan oleh Ibn Taymiyyah in al-Iqtidaa. Wallahu a’lam bish-shawab.



Nah saudaraku, demikianlah beberapa fatwa dari Komite Permanen untuk Penelitian Islam dan Fatwa, atau yang dikenal dengan Al-Lajnah ad Daimah lil Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al ifta mengenai hukum merayakan atau menghadiri perayaan Tahun baru Masehi atau sejenisnya. Dan insya Allah fatwa-fatwa mengenai hal tersebut akan kami lanjutkan pada postingan berikutnya, Semoga bermanfaat.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dalam setiap kejadian.

Dan bilamana ada kata maupun penulisan yang salah mohon di benarkan
Salah dan Hilaf andai ada kata yang kurang berkenan mohon ma'afkan
Kami Hanya Insaniah fakir Hamba Allah yang tiada daya dan Upaya

Dipersilahkan bagi yang ingin share or copas jikalau bermanfa'at,


Semoga bermanfaat...
♥♫♥♫♥♫♥♥♫♥♫♥♫♥♥♫♥♫

Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir

Di Persilahkan bagi yang mau tag,tag sendiri.
semoga bermanfa'at..Insya Allah
Salam Ukhuwah fillah

Prinsip ABC

A mbil yang baik

B uang yang buruk

C iptakan yang baru

ღღ ANA UHIBUKKA LADZI AHBABTANI LAHUUღღ

(¯`v´¯)♥SALAM SANTUN UKHUWAH♥.(¯`v´¯)
`·.¸.·`(´'`v´'`) ♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥(´'`v´'`)`·.¸.·`

Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir


By_Abdullah Zahid Mubarok Al-Miski III
http://www.facebook.com/profile.php?id=100002971007615